Kamis, 15 Maret 2018

Student Exchange : Absurd Moment PART 3

Mahasiswa Bayangan

Rabu, 28 September 2016
Hari itu merupakan kali ketiga bagi kami untuk menapakkan kaki di Kampus A. Salah kelas sudah, dateng ke kelas namun ternyata kelas libur juga sudah. Kira-kira, hal apalagi yang nanti saya dan teman-teman alami saat tiba di Kampus A?

Pukul 13.00, kami semua sudah berkumpul di depan kos Thea. Jas hujan serta Sandal jepit sudah kami sediakan, takut-takut hujan seperti Minggu lalu. Serempak kami memakai ransel besar. Kelihatannya penampilan kami sudah seperti ingin mendaki gunung saja. Namun kenyataannya, matahari masih setia menyaksikan keberangkatan kami menuju Kampus A.
Kami tiba di kampus A setengah jam kurang dari jadwal masuk. Haus, kami pun mampir di kantin fakultas sana dan membeli milk tea yang harganya relatif murah. Setelahnya, kami bergegas ke lantai 3 di ruang 304. Sebelumnya, kami mampir ke toilet sejenak untuk merapikan penampilan kami. Merasa sudah lebih baik, kami segera menuju kelas yang letaknya tak jauh dari toilet itu.
Jeng jeng! Kelas masih kosong, seperti minggu lalu. Terlihat seorang cleaning service yang tengah mengepel lantai. Bapak itu bilang bahwa kelas academic writing hari ini akan masuk. Niel dan Dial bertemu Arham, Dwita, dan Afika di lobi, dan mengajak mereka masuk ke ruang 304 sementara kelas masih kosong. Afika, Dwita, dan Arham bercerita pengalaman mereka minggu lalu saat mengikuti mata kuliah pertama mereka. Dosennya gokil, dan wajahnya mirip artis. Mereka juga disambut oleh teman sekelas sementara mereka.
“Ya pokoknya kita udah mirip mahasiswa bayangan deh di kelas itu.” celoteh Dwita, yang kala itu memilih duduk di kursi barisan belakang bersama Arham dan Afika.
“Astral ya berarti? Tak kasat mata dong.” timpalku, diimbuhi cekikikan oleh yang lainnya.
Tiba-tiba ada seorang cowok yang masuk ke kelas sementara kami. Ia kaget melihat kami, menduga bahwa ia salah kelas. Cowok itu bergegas keluar, namun Arham menahannya.
“Ini kelas Academic Writing ya, Mas? Itu teman saya student exchange di kelas ini.” jelas Arham yang langsung mengajak Afika dan Dwita keluar dari kelas itu.
Cowok itu berbalik, masuk kelas dan memilih duduk di bangku depan. Kemudian disusul oleh mahasiswa lainnya yang tak kalah kaget saat melihat kami. Ada perasaan nervous menyelimuti kami. Lingkungan baru, kebiasaan baru, teman-teman baru. Kami harus bisa menyesuaikan diri disini.
Seorang wanita berhijab yang kira-kira berumur 40 tahunan tiba ke kelas dengan menebar senyum. Saya beserta 6 teman saya mulai diam dan merapikan posisi. Dosen sudah datang, pikir kami saat itu. Wanita tersebut berhenti tepat di depan kursi Niel dan duduk disitu. Kami memandang mahasiswa asli sana yang nampaknya masih bergurau walau wanita yang kami kira dosen itu sudah tiba.
“Ibu itu mahasiswa sini kok, bukan dosen.” bisik cewek berkacamata nan berparas manis yang duduk selisih 2 kursi di sebelahku, seolah bisa menebak apa yang kami fikirkan.
Cewek itu kemudian menggeser posisi duduknya, sehingga ia duduk bersebelahan dengan saya. Kami pun berkenalan. Namanya Antoinette, tahun ini ia sudah meraih gelar sarjana ekonomi di salah satu kampus swasta elit katolik di Indonesia. Di Kampus A, ia tengah menginjak semester 7 dengan mengambil konsentrasi culture. Menempuh pendidikan di 2 kampus sekaligus tak membuat cewek introvert ini cukup puas. Buktinya ia juga berhasil menorehkan prestasi dengan terpilih mengikuti student exchange 2x berturut-turut, yaitu ke Thailand dan China. Latar belakang pendidikannya pun membuat saya termotivasi untuk menggapai apa yang saya impikan.
Suara pintu yang terbuka mengagetkan kami. Datanglah wanita berkacamata dengan rambut diikat ponytail, mengenakan kaos polo serta celana jeans dan sepatu kets. Ia duduk di bangku dosen, seraya memperkenalkan kami para student exchange.
“Mam Saras selalu datang telat 15 menit.” gerutu Antoinette.
Mam Saras menyerahkan buku absen secara bergilir pada cowok yang tadi datang awal di kelas ini. Diketahui bahwa cowok itu merupakan komting kelas ini, namanya Heidar. Nama kami sudah tercantum dalam buku absen itu, melebur dengan nama mahasiswa asli lainnya. Mam Saras menyuruh kami membuka buku pelajaran dan membahas soal di dalamnya. Karena kami belum punya buku panduannya, maka saya, Mei, Reya, Thea dan Ena bergabung dengan Antoinette. Sementara Dial dan Niel gabung bersama Heidar.
Perkuliahan pun selesai tepat waktu dengan menyisakan PR. Mam Saras memanggil kami para student exchange dan menyuruh kami untuk gabung di situs edmodo milik Kampus A untuk mengumpulkan tugas. Sementara Heidar juga tak segan meminjamkan buku pelajarannya agar kami bisa memfotokopinya. Keluar kelas, Heidar mengantar kami ke tempat fotokopi dan bercerita sedikit mengenai perkuliahan di Kampus A. Kali ini, kami pun bisa pulang dengan perasaan lega.
-to be continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar