Kamis, 15 Maret 2018

Student Exchange : Absurd Moment PART 2

Basah Kuyup di Kelas

Rabu, 21 September 2016
Ini merupakan kali kedua setelah kemarin salah kelas kami untuk berangkat ke Kampus A. Semoga saja ini memang kelas kami yang sesungguhnya dan tidak ada lagi penolakan, karena kami lelah untuk berpindah-pindah kelas lagi, mengingat perkuliahan disana sudah dimulai. Apalagi, kami dijatah tidak boleh bolos lebih dari 2x disana. Sementara karena Rabu kemarin kami belum terdaftar di kelas Academic Writing, jadi jatah bolos 2x kami masih berlaku.

Biasanya saya nebeng dengan Mei. Namun karena kami beda kelas dan kelas Mei selesai lebih awal, ia menunggu di kosan Frau, sahabat kami, dan prepare disana. Sementara saya harus prepare di Kampus T karena jadwal kuliah terakhir saya mepet dengan jadwal kami harus berangkat ke Kampus A. Kami sudah berkumpul di depan kos Thea, namun Mei belum muncul. Saya menghubungi Mei, namun teleponnya tidak diangkat. Geram, teman-teman saya berniat untuk meninggalkan Mei. Saya kurang setuju, tapi mereka memaksa saya karena takut telat. Dengan agak terpaksa, saya pun dibonceng Niel. Ada perasaan bersalah saya pada Mei, karena saya sering nebeng dia. Sorry Mei, saya tidak bisa se-setia pacar kamu #lah
Kami pun menelusuri jalan setapak yang sepi nan rawan begal itu. Awan mendung ikut mengiringi perjalanan kami. Ketika kami sampai ke pertigaan, Niel-saya mengambil belok kanan, sementara Ena-Reya dan Dial-Thea mengambil jalan lurus. Saya terkejut karena saya belum pernah lewat jalur ini. Tiba-tiba suara petir mengagetkan saya, yang secara tidak sengaja saya mencengkeram erat kaos polo Niel tepat di posisi pinggangnya. 
“Udah ngga usah takut. Tenang, ada aku kok. Aku lho sudah biasa lewat sini.” Niel menenangkan saya.
Tiba-tiba, handphone saya berdering. Tertera nama Mei di layar handphone saya. Saya menerima panggilannya. Benar saja, ia marah-marah karena sudah kami tinggal. Kuping saya panas, jadi saya loud speaker saja agar Niel juga mendengar omelannya. Puas, ia pun segera menyusul kami. Setelahnya, kami berpapasan dengan Dial-Thea dan Ena-Reya. Saya menyuruh mereka memperlambat laju motor karena Mei sudah menyusul. Kami semua tau bahwa Mei sering mengendarai motor dengan kecepatan 80km/jam, dan kemungkinan dugaan kami tepat saat ini.
Selang beberapa menit kemudian, Mei datang dengan ekspresi marah. Saya meminta maaf padanya, dan ia minta agar tidak usah dibahas lagi. Muncul rintik-rintik air di aspal, hujan! Kami pun mempercepat laju motor kami hingga menemukan tempat untuk berteduh. Kami berhenti di sebuah rumah kosong bekas pangkas rambut. 20 menit kami menunggu, namun hujan tak kunjung reda. Pelajaran untuk kami, lain kali harus bawa jas hujan kemanapun. Aneh, padahal waktu itu belum masuk musim hujan. Hujan pun agak reda. Kami melepas sepatu dan dengan terpaksa memasukkannya ke jok motor. Kami pun berangkat walau masih gerimis.
Kami tiba di Kampus A dengan waktu 10 menit kurang dari jadwal masuk. Kami memasang sepatu dan buru-buru naik ke lantai 3 dengan kondisi baju dan sepatu basah. Syukurlah saat tiba di ruang 304, kelas academic writing, kelas itu masih kosong. Jadi kami masih bisa merapikan penampilan kami, agar tidak terlalu malu-maluin di hari pertama masuk. Seperti minggu kemarin, kami pun memilih duduk di bangku belakang di pojok kiri. Sembari menunggu, kami mengeluarkan handphone masing-masing untuk sekedar wefie. #alay
Sudah hampir satu jam kami menunggu, tapi tidak ada satu pun mahasiswa kelas Academic Writing Kampus A yang datang. Curiga takut salah kelas seperti sebelumnya, kami menyuruh Niel atau Dial menanyai TU. Mereka pergi ke TU yang ruangannya tak jauh dari kelas itu. Sementara saya, Mei, Ena, Reya, Thea mengekori mereka dan siap menguping. Niel dan Dial menjelaskan ke salah satu pegawai TU bahwa kami adalah student exchange dari Kampus T.
“Sekarang kelas Academic Writing lagi libur mas, soalnya dosennya lagi sakit.”
Jleb. Kami hanya bisa cengo saat itu. Sudah dua kali kami kecolongan. Apalagi tadi kami sampai kehujanan, eh ternyata setelah datang malah dapat kabar libur. Satu kekhawatiran tiba-tiba muncul di benak kami. Bagaimana kalau ada make up class di lain hari sementara jadwalnya bentrok dengan jadwal kuliah kami di Kampus T?
“Nama kalian sudah terdaftar di absen kelas Academic Writing.”
“Boleh minta nomor handphone dosennya ngga, pak?”
Niel dan Dial mencatatnya di layar handphone mereka masing-masing. Dial menghubungi dosen sementara kami. Lesu, kami memilih duduk di bangku dekat tangga, memperhatikan mahasiswa disana keluar dari kelas. Dari arah tangga, muncul Dwita, Afika, dan Arham yang akan masuk kelas. Kami berbincang sebentar dan Dial mendapat balasan Whatsapp dari dosen itu. Beliau memberitahu kami bahwa tidak ada makeup class, hanya saja ada tugas sebagai pengganti kelas hari itu. Tak lupa beliau sertakan file tugas yang harus kami kerjakan. Kami pun menghela nafas lega. Mungkin hari ini, kami belum dapat kesempatan untuk menerima materi perkuliahan. Tapi setidaknya, kami sudah di notice oleh beliau.
-to be continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar