Minggu, 18 Februari 2018

DRAMA : Kopi Sianida

Naskah Drama


Scene : Rumah Ria

Ria : Ma, aku pamit ke cafe ya.
Mama : Sama siapa, sayang?
Ria : Sama teman SMA aku, Gals Squad. Boleh ya?
Mama : Yaudah, tapi pulangnya jangan malam-malam ya. Hati-hati.
Ria : Jangan khawatir, ma. Bye!

Scene : Cafe (Ria datang duluan. Ia memilih bangku sembari menunggu teman-temannya. Kenangan bersama teman-temannya masih lekat di benaknya)

FLASHBACK

Scene : Taman (Ria dan Dea menghabiskan waktu bersama)

Ria : (menunjukkan foto cowok sambil senyum sendiri) Liat nih si Calvin! Ganteng banget! Makin lope lope deh sama dia.
Dea : Haha iya iya. Hm... mentang-mentang jatuh cinta. Puji ae teroz!
Ria : Eh disini ada toilet nggak ya? Aku ke toilet dulu ya. (beranjak dari kursi taman)

Calvin : Hai, Dea! Sendirian aja nih.
Dea : Loh, Calvin kamu kok bisa ada disini?
Calvin : Iya dong. Ehehe... Hm, sudah lama aku suka sama kamu.
Dea : Hah? Kamu bilang apa barusan? (bingung)
Calvin : (memberi bunga) Kamu mau nggak jadi pacar aku?
Dea : Hmm... (menerima bunga) iya.

Ria : (mengintip di balik pohon lalu menangis)

END of FLASHBACK

Dea : Hai Ria! Baru dateng?
Ria : Iya, baru aja.
Masha : Hola, gals!
Tya & Tari : Hai, gals!
Tya : Kirain kalian udah pesan.
Masha : Belum lah kan setia kawan.
Tari : Waiters! (memanggil pelayan dan memesan menu)
Dea : Eh bentar ya, kakekku nelpon. (izin keluar 5 menit)

Mereka ngobrol dan bernostalgia masa SMA. Menu pesanan datang dan mereka meneguk minuman masing-masing. Tiba-tiba, Ria jatuh tergeletak ke lantai.

Dea : Siapapun tolong panggil ambulans dan hubungi mamanya Ria.
Masha : Ok! (memanggil ambulans dan pergi keluar cafe)


Scene : Rumah Sakit (Dokter memeriksa keadaan Ria dan teman-temannya menunggu diluar)

Tya : Loh, Masha kemana?
Tari : Gak tau tuh, hapenya gak aktif ditelponin daritadi.
Mama Ria : Dea, Ria dimana? (lari lari dengan cemas)
Dea : Masih diperiksa dokter, tante. (berusaha menenangkan mama Ria)
Dokter : (keluar dari ruangan) Dimana keluarga Ria?
Mama Ria : Saya ibunya, dok. Gimana keadaan anak saya?
Dokter : (menelan ludah) Mohon maaf, ibu. Saya sudah melakukan yang terbaik semaksimal mungkin. Tapi, anak anda tidak bisa diselamatkan.

Kematian Ria menyisakan isak tangis mama dan juga sahabatnya.


Scene : Basecamp Gals Squad, seminggu setelah kematian Ria

Tari : Aku masih nggak bisa percaya Ria meninggal secepat ini. Kenapa?
Tya : Aku juga. Tapi Ria sudah tenang disana. 
Tari : Aku masih bingung soal penyebab kematian Ria. Kejadian itu benar-benar mendadak.
Tya : Maksudmu ada yang aneh dengan kematian Ria?
Tari : Iya. Sebenarnya, aku curiga sama Masha.

Masha : (baru sampai depan pintu basecamp dan menguping pembicaraan Tya dan Tari)

Tya : Hah? Kok bisa?
Tari : Iya. Aku pernah dengar kalau Masha pernah suka bahkan nembak Ria. Tapi Ria jelas nolak lah.
Tya : Astaga! Jadi maksudmu, Masha lesbian dan dia dendam karena cintanya ditolak Ria?
Tari : Ya, itu maksudku. 

Tiba-tiba Masha membanting pintu dan menghampiri mereka.

Masha : (murka) Aku dengar semuanya.
Tari : Kenapa marah? Benar kan kamu dendam sama Ria? Hahaha... Aku ngerti jalan fikiranmu. Kenapa kamu lakuin itu sama temenmu sendiri?
Masha : Diam! Aku... (kalimatnya terpotong ucapan Tari)
Tari : Kenapa? Ini kenyataan.
Tya : Yang harusnya diam itu kamu Masha, bukan Tari ataupun aku.
Masha : Aku nggak ngebunuh Ria!
Tya : Loh, kami kan nggak bilang kamu bunuh Ria, tapi kamu dendam sama Ria. Wah, kalau ini sih udah jelas (tersenyum kecut)
Tari : Udah, nggak usah bohong lagi. Kami tahu kamu yang sesungguhnya.

Masha tak bisa membendung kemarahannya lagi. Ia mengambil kursi di basecamp dan memukul Tari hingga meninggal.

Tya : Masha, stop! Aku nggak nyangka kamu bakal bunuh temenmu sendiri. Tari, bangun! (mengguncang-guncangkan tubuh Tari yang sudah tak bernyawa)
Masha : Kamu mau ngapain sekarang? Hah? (menghampiri Tya). Sekarang, giliranmu!
Tya : Kamu gila? Aku nggak nyangka, kamu ternyata seorang pembunuh! (menghindar dan berusaha keluar dari basecamp)
Masha : Stop! (menangkap Tya) Sudah cukup bagimu. Goodbye, fake friend! (mengambil vas bunga dan memukul Tya hingga meninggal)

Masha melihat tubuh Tari dan Tya yang tergeletak di lantai dengan bercucuran darah. Ia menatap nanar mayat mereka.

Masha : Hahahaha... itu konsekuensinya. Kalian itu temanku, tapi kenapa kalian menuduhku seperti itu? Aku nggak bunuh Ria! (menangis dan jatuh terduduk di antara mayat Tari dan Tya) I'm sorry, gals! Aku menyayangi kalian. (mengecup lembut kening mayat Tari dan Tya)

Seminggu setelahnya, Masha ngajak Dea ketemuan di basecamp untuk membahas soal kematian Ria.

Masha : Hai Dea, to the point aja kita bahas soal kematian Ria.
Dea : Tunggu, Masha. Sebelumnya, aku ingin ngasih tahu kamu sesuatu.
Masha : Ngasih tahu apa?
Dea : Ini penting, dengerin dulu ceritaku.

FLASHBACK

Scene : Rumah Sakit

Dokter : Mohon maaf, Ria. Penyakit yang menyerang kamu adalah kanker otak.
Ria : Apa dok? (shock dan menitikan air mata)
Mama : APA? Dokter pasti bohong! Apa yang harus saya lakukan? Oh, Ria! (menangis dan memeluk Ria)
Dokter : Ini masih stadium awal. Kita masih bisa memperlambat sel kanker menyerang bagian tubuh lainnya dengan terapi (mengusap pundak Ria dan Mamanya)
Mama : Tapi itu tidak bisa disembuhkan, dok? Lalu, dia akan... (speechless) Oh, kenapa harus anak saya? (menyenderkan kepalanya di bahu Ria)
Dokter : (mengajak mama Ria untuk mendiskusikannya di luar ruangan rawat inap Ria)

Dea : (mendengar percakapan dokter dan mama Ria. Ia datang dan menenangkan Ria) 
Ria : Kamu sudah tau kan? Aku mengidap kanker otak.
Dea : Maafin aku yang sudah ngecewain kamu waktu itu. (nangis) Aku mau bantuin kamu dalam hal apapun.
Ria : Oke, aku butuh bantuanmu untuk membuatku mati secepat mungkin. (menggigit bibir bawahnya sejenak)
Dea : Apa? Kenapa? (shock bukan main) Aku akan selalu ada kapanpun kamu butuh aku.
Ria : Aku sudah nggak punya harapan lagi. Calvin juga cinta sama kamu. Apa yang ingin aku harapkan lagi di dunia ini? Nggak ada!
Dea : Maafin aku. (memeluk Ria)
Ria : Aku sudah maafin kamu. Inget itu! Kematianku... tergantung caramu.

END of FLASHBACK

Dea : Ya, aku sudah meracuni Ria dengan sianida di kopinya saat kita meet up di cafe kemarin, sesuai dengan permintaan Ria yang menginginkan mati dengan caraku. (memberi selembar surat pada Masha berisi pesan Ria untuk Dea)

Dear Dea.
Waktu berlalu begitu cepat. Kami bersahabat sudah sejak SD. Kami saling curhat, buka aib masing-masing, dan menjaganya. Lalu, aku curhat sama kamu kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada Calvin. Dan kamu selalu ada untuk mendukungku ngedapetin Calvin. Sampai akhirnya, kebenaran terungkap. Calvin jatuh cinta padamu, dan kamu mau saja menjadi kekasihnya. Fuck you! Kenapa kamu berkhianat padaku? Tapi kekecewaanku belum berakhir. Dokter memvonis aku mengidap kanker otak. Ya, aku akan mati dalam waktu dekat. Kenapa harus aku? Aku putus asa. Ya, mungkin dengan mati di tanganmu adalah pilihan yang terbaik. Aku akan senang jika kamu melakukan apa yang ku pinta. Cintai Calvin layaknya aku mencintainya. Terima kasih telah mewarnai hidupku.
Regards, Ria.

Masha : Jadi, Ria meninggal karena kamu? Aku gak terima!
Dea : Maaf, Masha (meraih tangan Masha dan memeluknya)
Masha : Kamu telat! Aku sudah bunuh Tari dan Tya karena mereka menuduh aku yang membunuh Ria. Tapi kenyataannya salah!
Dea : APA? (shock dan melepaskan pelukannya dari Masha) Kenapa kamu sampai ngebunuh mereka? Mereka nggak tahu apa-apa.
Masha : Kamu lah pembunuh Ria! Aku nggak bisa terima kenyataan ini! (murka dan mendekati Dea)
Dea : Apa yang kamu lakukan? (bergidik ketakutan dan menghindar)
Masha : Ya, aku akan membunuhmu! (mencekek Dea hingga meninggal)

Setelah kematian Dea, Masha mulai menyesal. Ia menangis sejadi-jadinya dan memeluk mayat Dea.

Kamu pembunuh, Masha!

Terdengar suara gema seseorang yang mengagetkan Masha. Masha menoleh dan tidak ada siapa-siapa disitu selain ia dan mayat Dea. Tiba-tiba, Masha dikagetkan dengan seseorang berwajah seram yang tak dikenalinya mengenakan jubah hitam tepat di depan wajahnya yang menatapnya ngeri. BRUAK! Masha terkapar di sebelah mayat Dea dengan perut yang berlumuran darah.

~The End~

(kiri-kanan: Mama, Masha, Tari, dosen drama, Dea, Tya, Dokter, Ria, Calvin)

Cast :
Ria                  = Alvi Khoiriya
Dea                 = Mardiyah Hafidz
Masha             = Lasya Febrina Fitri
Tari                 = Dwi Lestari
Tya                  = Ana Aristya
Mama Ria       = Femmy Puri Rahayu
Dokter             = Aslikhatul Ummah
Calvin             = Sastro Oloan Situmeang

16 komentar:

  1. wah endingnya mengecoh pembaca nih! keren

    BalasHapus
  2. Masha pembunuh dalam 3 babak (y)

    BalasHapus
  3. Curiga nih Tari dan Tya agen rahasia Lambe Turah

    BalasHapus
  4. betapa malang nasibmu Ria :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo gak gitu gak jalan ceritanya :D

      Hapus
  5. awalnya dikira tya sama tari itu kembar

    BalasHapus
  6. bukan, tapi mereka best friend banget kyk ria sama dea. Kalo Masha netral

    BalasHapus
  7. enak jadi cowok sendiri ya :v
    dikelilingi cewek cewek cantik

    BalasHapus