Sabtu, 23 Januari 2016

SEJARAH : Asal Usul Desa Kramatikus (Bangkalan, Madura)

ASAL USUL DESA KRAMATIKUS

Desa merupakan sekumpulan dari beberapa unit pemukiman kecil yang disebut perkampungan atau dusun yang didalamnya terdapat kesatuan masyarakat yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.Peranan desa dalam pembangunan wilayah sangat penting karena banyak potensi yang dimilikinya. Pengembangan desa perlu mempertimbangkan potensi desa. Suatu wilayah atau daerah dapat berpotensi menjadi sebuah desa asalkan memiliki 2 potensi, yaitu potensi fisik dan potensi non fisik.

Di Indonesia, orang yang memimpin desa disebut Kepala Desa. Di Madura, sebutan untuk kepala desa dikenal dengan “Klebun”. Dalam artikel ini, saya akan membahas tentang salah satu desa yang berada di kecamatan Bangkalan, yaitu Desa Kramatikus.



            Kramatikus. Mungkin jika kita hanya sepintas mengartikan kata ini maka nama kramatikus memiliki arti “Tikus yang Keramat”. Apakah seekor tikus keramat ini dapat mensugesti para warga sehingga menjuluki kampungnya dengan nama Kramatikus? Lalu yang paling penting yaitu, Apakah rata – rata populasi tikus di Bangkalan dinyatakan keramat? Daripada pertanyaannya semakin ngelantur dan tidak nyambung pada ulasan utama maka disini saya akan menjabarkan tentang sejarah asal – usul Desa Kramatikus.
Konon pada zaman dahulu, terdapat sebuah Pondok Pesantren Al-Hidayah di sebuah pemukiman warga yang hanya memiliki jalan setapak. Banyaknya santri dan santriwati yang berniat menimba ilmu disana menandakan jika pondok pesantren ini cukup populer di Bangkalan pada saat itu. Belum lengkap rasanya jika proses belajar – mengajar tidak diimbuhi dengan tugas, tugas, dan tugas. Tak hanya di sekolah formal pada umumnya, namun tugas juga sering mengiringi perjalanan sukses para murid, tak terkecuali murid di pondok pesantren ini. Maka tak jarang jika para santri dan santriwati ini bersuka rela mengorbankan apapun untuk lembur hanya demi mengerjakan tugas tersebut sebaik mungkin.
            Pada suatu malam, seorang santri tengah berjalan melintasi jalan setapak yang berada di sekitar pondok pesantren. Ia jenuh dengan kegiatan yang selama ini ia lakukan berulang – ulang di pondok. Pada saat waktu yang bersamaan, seorang warga yang rumahnya dekat dengan Pondok Pesantren itu berteriak panik. Rumahnya baru saja dimasuki maling dan beberapa barang berharga miliknya sempat dibawa kabur maling itu. Teriakan si korban kemalingan pun terdengar oleh tetangga – tetangganya, sebagian warga kampung disana. Lalu, para warga pun segera bertindak dan berinisiatif untuk mengejar maling itu sampai tertangkap, lalu dilaporkan ke pihak berwajib dan dipenjara, begitu niat warga disana dengan maksud agar kampungnya tentram dan damai.
            Sekumpulan warga pun berlari ke jalan setapak, namun mereka tidak menemukan sosok maling yang tengah mereka cari. Mereka berlari menuju jalan yang searah dengan seorang santri yang tengah asyik jalan - jalan dari Pondok Pesantren Al-Hidayah. Melihat seorang pemuda berjalan sendirian di malam hari itu pun membuat sekumpulan warga menduga jika santri tersebut adalah pelaku perampokan di rumah salah satu warga pada malam itu. Lalu sekumpulan warga meneriaki santri tersebut sebagai malingnya. Bingung dengan sebutan itu, si santri pun panik. Satu – satunya cara untuk menghindari situasi gencar seperti itu adalah kabur. Si santri walau dalam keadaan tidak bersalah pun ketakutan dan memutuskan untuk kabur dari pengejaran warga. Sekumpulan warga pun tak ingin kecolongan, maka mereka terus mengejar santri itu dan berusaha menangkapnya.
Santri tersebut terus berlari, ia menoleh ke belakang dan melihat sekumpulan warga terus mengejarnya. Melihat sudah tak ada jalan lagi yang bisa ia tempuh karena di depannya terdapat sebuah pohon yang menghalangi jalannya, maka si santri pun hendak memanjat pohon itu sambil berteriak bahwa dia bukan pelaku perampokan itu. Namun sekumpulan warga tidak mempercayai pengakuannya karena kalau ia bukan maling lantas mengapa ia kabur saat sekumpulan warga hendak menghampirinya.
Masih geram dengan pemuda yang diduga maling ini, seorang warga yang membawa senjata tajam berupa celurit ini naik pitam dan membacok santri tersebut dan serangannya berhasil mengenai kakinya. Darah mengucur di kakinya, si santri yang tidak kuat menahan rasa sakitnya itu jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri. Darah yang terus mengucur deras itu mengundang segerombolan tikus liar disana menghampiri sumber darah itu dan menggerogoti tubuh santri tak berdosa tersebut.
Keesokan paginya seorang warga menemukan segerombolan tikus yang tengah menggerogoti sesuatu. Warga tersebut penasaran terhadap apa yang membuat segerombolan tikus itu berkumpul di jalan setapak, ia pun menghampiri lokasi itu dan segerombolan tikus itu pergi, takut dengan manusia. Warga pun terkejut melihat mayat yang tidak diketahui identitasnya terbujur kaku disana. Warga pun menguburkan mayat itu di tempat lokasi dimana mayat ditemukan.


Seiring berkembangnya zaman, jalan setapak itu telah diperbarui dengan dilapisi aspal. Makam santri tersebut hendak dipindah ke tempat pemakaman umum, namun saat memindahkannya selalu saja ada halangan. Dari kejanggalan peristiwa ini, warga menamai daerah sekitar situ dengan “Keramat Tikus” atau yang kita kenal dengan desa Kramatikus, karena terdapat sebuah makam keramat yang di dalamnya terdapat mayat yang meninggal karena tubuhnya digerogoti tikus.
Dari kejanggalan peristiwa ini, warga menamai daerah sekitar situ dengan “Keramat Tikus” atau yang kita kenal dengan “Desa Kramatikus”, karena terdapat sebuah makam keramat di pinggir jalan yang di dalamnya terkubur mayat yang meninggal karena tubuhnya digerogoti tikus.
Hingga saat ini, identitas lengkap santri ini dan  pelaku perampokan rumah warga pada malam itu masih menjadi sebuah misteri. Dan sampai saat ini, makam tersebut masih terletak di pinggir jalan Desa Kramatikus.
Dari artikel sejarah desa ini, kita dapat mengetahui bagaimana asal usul sebuah tempat yang berada di Madura yang tentunya bermanfaat bagi kita untuk mengetahui lebih dalam tentang Madura, khususnya Bangkalan. Dengan ini, saya dapat menyimpulkan bahwa Desa Kramatikus berasal dari kata “Keramat Tikus”, karena pada desa tersebut terdapat sebuah makam yang dikatakan keramat oleh penduduk sekitar yang berlokasi di pinggir jalan perempatan dan mayatnya meninggal karena digerogoti tikus.

Dari artikel ini, saran yang bisa saya sampaikan yaitu masyarakat yang akan menempati suatu wilayah atau daerah sebaiknyanya mengetahui informasi mengenai tempat tinggal yang akan ditempatinya. Selain untuk menambah wawasan juga agar masyarakat tersebut bisa menceritakan kepada keturunannya. Upaya ini juga dilakukan untuk melestarikan hal yang berkaitan tentang Madura.

1 komentar:

  1. Hi Selamat pagi guys, Masih Bingung Dan Ragu Pilih Agen Poker & DominoQQ Yang Terpercaya?
    PIN BB : D61E3506
    👉 Whatsapp : +85598249684
    👉 L ine : Sinidomino
    dewa poker

    BalasHapus